Description
Pulau Jawa, 1312 Saka (1390 M). Setelah wafatnya Prabu Hayam Wuruk, Majapahit dilanda kekacauan. Tiga pusaka kerajaan—Giok Dewa, Keris Gandul Manik, dan Kitab Tanpa Aksara—hilang secara misterius, mengguncang dunia persilatan. Para pendekar dari berbagai penjuru, bahkan dari negeri seberang, berlomba memburunya.
Namun, hanya satu yang menjadi pusat incaran: Kitab Tanpa Aksara—warisan Mpu Tantra, manusia setengah dewa yang dikabarkan telah moksa. Sebuah kitab yang tak bisa dibaca dengan mata, melainkan dengan jiwa yang hening.
Di tengah perebutan pusaka dan ambisi kekuasaan, muncul seorang pendekar muda bernama Sunya Aji Dharma. Perjalanannya bukan sekadar untuk menguasai ilmu tertinggi, tapi menemukan makna kehidupan dan meraih kesadaran sejati, hingga melahirkan jurus paling sempurna: Jurus Tanpa Bentuk.
Novel ini bukan sekadar cerita silat. Ia adalah jembatan menuju dimensi batin yang dalam. Ditulis dari perenungan dan keheningan, buku ini mengajak pembaca untuk tidak sekadar membaca, tapi menyelami—pelan, tenang, dan sadar.
Harapan penulis, semoga kisah ini tak hanya membangkitkan kejayaan cerita silat Indonesia, tapi juga memberi ruang bagi pembaca untuk merenung, menemukan bayangan rembulan dalam beningnya air kesadaran.






Reviews
There are no reviews yet.